Pena itu telah kering..

Image

Makhluk yang pertama yang diciptakan Allah adalah Al-Qalam (pena)

Disebutkan pada hadits yang shahih Allah memerintahkan pada Al Qalam untuk menuliskan takdir seluruh makhluk di muka bumi

Telah tertulis dan telah kering pena itu menuliskan takdir sejak  50 ribu tahun yang lalu

-Beriman pada takdir yang baik maupun yang buruk-

Mudah diucapkan namun tidak dalam amalnya
Saat menerima takdir yang baik pastilah lebih mudah untuk kita menerima dengan hati lapang
Namun berbeda saat takdir yang kita terima adalah takdir yang buruk
Segala praduga bermunculan pada logika kita
Berpikir keras dengan sebab apa  takdir yang buruk itu menimpa kita
Padahal kalau dikembalikan lagi pada contohnya mudah untuk tidak mengeluh ataupun berlarut-larut dalam kesedihan

-karena sesungguhnya sabar itu di awal musibah-

Ku sebut itu keunikkan wanita

Kutulis karena aku dan sebagian lainnya yang segender denganku pun mengalaminya

Wanita itu unik…
Lemah akal dan agamanya..
Lemah akal karena ia kadang menyelesaikan masalahnya dengan perasaan
Kadang yang sudah jelas bagaimana untuk menyelesaikannya tapi terganjal dengan rasa
Kasihanlah, nggak enak, dan banyak lagi lainnya
Tertimbun pertimbangan2 itu hingga tak menyelesaikan satu pun..

Wanita itu unik…
Ingin dimengerti tanpa 1 katapun yang diucapnya
Berharap semua orang bisa mengerti isi hati dan pikirannya
Sehingga sakit hatinya karena ternyata tak ada yang mengerti
Berdalih dengan “karena wanita ingin dimengerti”
Huhuhu..

Wanita itu unik…
Bergema ditelinganya tentang emansipasi wanita
Kadang ingin mencapai sesuatu yang jelas2 tak mungkin diraihnya
Menganggap bahwa bila fulan bisa kenapa aku tidak?
Hingga lupalah fitrah wanita sebenarnya

>>yang dibutuhkan adalah ILMU<<

Ilmu dien yang wajib diketahui, insya Allah dengan ilmu yang kita miliki akan menyelesaikan penat2 dunia itu
Insya Allah bila ilmu2 yang sudah jelas itu kita amalkan akan sedikit kata “tapi”

Semangattt menuntut ilmu…

Manajemen Keuangan Konsumen

Pas kuliah MKK kemarin jadi semakin tahu bagaimana aplikasi dari qana’ah itu
Mungkin ini hanya sepahamanku saja saat kuliah kemarin, ndak tahu temen2 yang lain memahaminya gimana

Di mata kuliah ini dijelasin bagaimana pentingnya suatu perencanaan finansial untuk menjamin 4 hal di masa depan yaitu :
- Keberhasilan finansial yaitu pencapaian terhadap keinginan finansial
- Keamanan finansial yaitu mampu memenuhi kebutuhan dan banyak keinginan
- Kekayaan yaitu pemilikan uang dan sumber daya finansial yang banyak
- Kebahagiaan finansial yaitu kepuasan yang dirasakan berkenaan dengan masalah uang
Bapak dosen menjelaskan bila keempat hal ini bersifat subjektif dan tidak harus dimulai dari nomor 1. Dari keempat hal tersebut yang paling tinggi adalah yang keempat yaitu kebahagiaan finansial. Kebahagiaan finansial adalah dimana kita merasa puas dengan uang yang kita miliki.
Hmmm…menurutku ini sama halnya dengan qana’ah[1]…merasa cukup dengan harta yang dimiliki. Dan yang paling terpenting ini merupakan kedudukan tertinggi dari perencanaan finansial…hwhwhw
Dan ilmu dien ini mejelaskan betapa banyak keutamaan dan balasan bagi orang2 yang qana’ah dengan hartanya[2]

Footnote:
[1] Sikap qana’ah, Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin menyampaikan hadits dalam Shahih Muslim dan yang lainnya, dari Amr bin Al-Ash Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rizki yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawy)
Pasted from

[2] liat di http://pengusahamuslim.com/keutamaan-sifat-qanaah

Jodoh mah ga kemana

“jodoh mah ga kemana”

Beberapa kali aku mendengarnya dari beberapa peristiwa yang bebeda
Waktu itu aku mendengarnya dari temanku yang baru berpisah dari kekasihnya
Pernah juga aku mendengarnya saat seseorang kehilangan barangnya kemudian ditemukan kembali
Actually ungkapan ini sebagai ungkapan ‘pengikhlasan’ bagi mereka yang kehilangan. Ungkapan ini digunakan untuk melapangkan peristiwa yang menyakitkan bagi mereka. Entah itu pelipur lara atau memang ia ikhlaskan karena takdir Allah

Hmmm….teringat satu cerita yang kudengar dari radio, mungkin sama konteksnya tapi berbeda maknanya

>>Ibnu Jauzy al Hambali bercerita tentang seorang laki-laki yang kehilangan ikat pinggangya.

Suatu hari fulan  berkeinginan pergi  haji ke Mekkah. Saat perjalanan ke tanah suci fulan kehilangan ikat pinggangnya yang berisi harta yang ia miliki. Setelah ia berusaha mencari tapi tetap tidak ketemu. Akhirnya fulan memutuskan untuk mengikhlaskan ikat pinggang tersebut dan meniatkan kebaikan terhadap ikat pinggang beserta hartanya yang hilang. Setelah sekian tahun lamanya ada seorang musafir  yang mencarinya. Saat bertemu dengan musafir itu, fulan dikagetkan dengan pemberian musafir tersebut yaitu ikat pinggang beserta harta miliknya yang hilang dulu. Fulan pun bertanya kepada sang musafir, “Darimana antum mendapatkan ini?” musafir pun menjawab “suatu hari saya menemukan ikat pinggang ini dan saya berkeinginan untuk mencari siapa pemiliknya. Akhirnya fulan dapat melaksanakan haji dengan harta miliknya yang telah hilang dan kembali lagi padanya pada waktu yang tepat

Intinya mah sama pengikhlasan terhadap sesuatu yang berharga dan hilang..namun pembedanya adalah ilmu
Ilmu yang membuat fulan tersebut mengikhlaskan karena Allah dan meniatkan untuk kebaikan terhadap  hartanya yang hilang..keikhlasan yang muncul sebab ia yakin bahwa apa2 yang terjadi adalah qadar Allah.

-Qaddarallah wa ma-sya’a fa’ala-

 

Manfaatkan yang kecil

Terkadang kita terlalu fokus untuk meraih hal-hal yang besar
Mengejar target agar waktu kita digunakan tepat untuk target-target itu
Menata semua dengan serapi mungkin agar  tidak ada yang terlewat
Tapi..
Sering kali upaya-upaya itu juga melelahkan, membutuhkan pengorbanan yang besar juga

Bukan untuk melupakan atau menghindari yang besar
Bukan pula untuk tidak memikirkan sama sekali tentang balasan hal-hal yang besar
Yang ingin kutulis adalah kadang kita lupa terhadap hal-hal kecil yang mungkin akan membawa hal yang besar
Sangat faham bahwa tiap-tiap orang memiliki cara berpikir masing-masing, memiliki caranya masing2 untuk meraih kebaikan2 dan keridhaan Allah

>>Hanya mengingatkan, karena aku pun terkadang lalai

1. Bahwa senyum kepada saudari kita itu shadaqah ya ukhtii [1]
Kenapa begitu mahal senyummu padahal itu juga merupakan ibadah, lelahkah kau dengan menunjukkan wajah yang berseri-seri  itu?harus ku gantikah energi untuk senyum 5 detikmu itu?
Bila kita merasa tak nyaman, merasa sakit dengan muka masam saudari kita, mengapa kita melakukannya?

2. Bahwa menyingkirkan gangguan di jalan itu berpahala [2]
Mengapa susahnya untuk berhenti sejenak saat detik-detik kesibukkan yang mencekik itu tertanam diotak kita
Apalah arti waktu 1 menit kita dibanding saudara kita yang seharian menahan sakit tertusuk duri?

3. Bahwa memudahkan urusan saudara kita kelak akan memudahkan urusan kita [3]
Menganggap tidak penting urusan orang lain, mungkin itu mengapa kita kadang enggan untuk menjawab pertanyaan yang penting bagi saudara kita
Balaslah dengan ungkapan yang paling baik karena meskipun itu tidak membantu memecahkan masalahnya namun itu tidak menggoreskan luka  untuknya.
Bantulah saudara kita yang kesulitan, meskipun itu hal yang sangat kecil sekali tapi dicintai Allah dan Rasulnya

4. Bahwa berlemah lembut itu adalah cara yang dicontohkan Rasulullah untuk berdakwah [4]
Lelah, mungkin itu sebabnya hingga terkadang kita tidak memikirkan apa yang kita lakukan  akan melukai orang lain
Tidakkah lidah itu bagai pedang yang menusuk di hati saudara kita saat mengucapkan “gitu aja kok gag tahu?” atau “kok kamu cerita itu lagi sih?”
Kenapa kita tidak sampaikan yang baik?kenapa harus dengan nada meremehkan? [5]
Terkadang bahkan kita menjadi acuh, pura-pura tidak mendengar saat saudara kita berbuat salah sampaikan dengan lemah lembut bila kita mampu..bukan dengan membisu sebagai bukti kita tidak suka, bukan dengan tatapan remeh kepada saudara kita yang lalai, bukan dengan celaan terhadap ilmu yang belum teramalkan oleh saudara kita. Tapi dengan kelembutan, dengan akhakul kariimah ya ukhtii

Hanya sedikit dari amalan2 kecil yang kadang terlalaikan…

Berbuat kebaikan itu adalah melakukan sesuatu kepada orang lain yang apabila orang lain melakukannya kepada kita, kita akan senang (denger dari kajian Ustadz Firanda, Lc)

-maka, telah jelas dalilnya..lakukan semua karena Allah, insya Allah segala sesuatu yang kita lakukan dengan mengharap wajah-Nya,kita akan merasa mudah melakukannya, merasa ringan melakukannya-
Allahu’alam

[1] Rasulullah bersabda :
” Janganlah meremehkan sesuatu kebaikan walaupun engkau berjumpa dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri” [HR. Muslim]

[2]  Dalam sebuah riwayat dari Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada seseorang laki-laki yang melewati ranting berduri berada di tengah jalan. Ia mengatakan, ‘Demi Allah, aku akan menyingkirkan duri ini dari kaum muslimin sehingga mereka tidak akan terganggu dengannya.’ Maka Allah pun memasukkannya ke dalam surga.”

[3]  Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang meringankan penderitaan seorang Mukmin di dunia, niscaya Allah akan meringankan penderitaan (kesulitan)nya kelak di hari Kiamat dan barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Siapa saja yag menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi (aib) nya di dunia dan akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya selama si hamba tersebut menolong saudaranya. Siapa saja yang menempuh suatu jalan guna mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan tidaklah suatu kaum (kelompok) berkumpul di salah satu rumah Allah sembari membaca Kitabullah dan mengkajinya di antara sesama mereka melainkan ketenangan akan turun di tengah mereka, rahmat meliputi mereka dan malaikat mengelilingi mereka serta Allah akan menyebut mereka di sisi para malaikat. Siapa saja yang menjadi lamban karena amalnya (sehingga amal shalihnya menjadi kurang), maka tidak cukup baginya hanya (bermodalkan) nasab.” (HR.Muslim)

[4]  Allah Ta’ala berfirman
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan mauidzoh hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

[5]  Allah Ta’ala berfirman,
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

 

 

 

 

 

Sudah Pantaskah Untuk Dipilih?

Wanita dinikahi karena 4 hal :

    1. Karena kecantikannya
    2. Karena hartanya
    3. Karena kehormatannya
    4. Yang paling utama karena agamanya

Ditekankan pada sebab agamanya..Mengapa?

1. Baiknya agama akan mencakup baiknya akhlaknya

Seseorang dilihat baik agamanya dengan akhlaknya dan teman-temannya

Sudahkah ilmu yang selama ini didapat dapat menjadi amal dikehidupan kita? [1]

Seorang yang banyak ilmunya akan berkorelasi positif dengan akhlaknya sehingga ia akan disenangi teman-temannya, dicintai saudara-saudaranya, disenangi tetangganya.

Siapa teman-teman dekatnya?[2]

Agama seseorang adalah cermin dari agama temannya maka perlu diperhatikan dengan siapa ia berteman, bagaimana agama temannya

2. Kesholehan anak-anaknya kelak bergantung agama ibunya

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya.

Pentingnya pemahaman agama yang baik bagi seorang ibu adalah penentu bagaimana agama anak-anaknya. Apabila sang ibu memiliki pemahaman agamanya baik maka insya Allah anak-anak yang didiknya juga demikian seperti kata pepatah kita “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”

3. Sukses dan binasanya seorang laki-laki bergantung istrinya

Seorang istri akan menjadi penentu bagi kesuksesan atau kebinasaan sang suami.

Seorang istri yang baik agamanya, hatinya akan condong kepada Tauhid

Ia akan menjadi penasehat yang mencari ridho Allah dalam memutuskan suatu masalah

Apa jadinya bila seorang istri cinta dunia, berorientasi pada kesenangan hawa nafsu?

Ini hanya sebagian saja dari sekian banyak keutamaan seorang wanita yang baik agamanya

Pertanyaannya sudahkan kita meraih keutamaan2 itu?

Sudahkah kita menjadi wanita yanng pantas untuk dipilih?

Ya uhktii fillah, mari terus memperbaiki diri…menjaga keistiqomahan menjalankan syari’at-Nya

Mengoreksi diri apa-apa yang masih salah pada diri kita

-Semoga Allah memudahkan urusan kita-

Foot note :

[1]  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. QS. Yunus:9

Sungguh seorg yg berilmu jika tidak mengamalkan ilmunya, maka akan hilang kharisma dr hatinya sebagaimana hilangnya embun dari batu cadas (Malik bin Dinar)

[2] Rasullah bersabda :

Permisalan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Duduk dengan) penjual minyak wangi bisa jadi ia akan memberimu minyak wanginya, bisa jadi engkau membeli darinya dan bisa jadi engkau akan dapati darinya aroma yang wangi. Sementara (duduk dengan) pandai besi, bisa jadi ia akan membakar pakaianmu dan bisa jadi engkau dapati darinya bau yang tak sedap.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Tentang prioritas

Sudah kebal dengan sindiran2 mereka tentangku yang tak mau berkumpul acara2 itu

Sudah kebal dengan pandangan2 tidak ramah itu untukku

..

Awalnya enggan untuk menulis hal ini

Tapi tidak sengaja mendengar selentingan yang diam2 itu

Kenapa kalian tidak tanya langsung kepadaku?atau aku memang harus kreatif sendiri mengatakan alasanku apa?

Hmmm…yang kukhawatirkan adalah saat kusampaikan sebabnya kalian akan mengakal2kan dan mengajakku untuk berdebat…Aku tidak mau![1]

Lebih baikkah bila aku katakan keengganku menyoblos karena itu sistem kufar?

Lebih baikkah bila aku sampaikan aku enggan ikut acara2 itu karena membuka pintu ikhtilat lebih banyak lagi?[2]

Lebih baikkah bila kusampaikan aku tidak mau berkumpul karena aku tidak suka ada musik?[3]

Ini tentang prioritas kawan!

Aku tidak rela menghabiskan waktuku  hanya untuk berkumpul tidak jelas

Bukan, bukan aku meremehkan kalian..

Sekali lagi, ini prioritas..

[1] Rasulullah bersabda

“Tidak ada satu kaum yang tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berjidal (debat untuk membantah).” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. [Az-Zuhruf: 58]” (HSR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

[2] Ikhtilat adalah berbaurnya laki-laki dan perempuan.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. ” (QS.An nuur : 31)

[3]  Rasulullah bersabda

“Kelak akan ada dari ummatku beberapa kaum yg menghalalkan zina, sutera dan alat-alat musik…”(HR. al-Bukhari)